Tiap Orang Berobat ke Puskesmas Tidak Pernah Tau Berapa Biaya Yang di Claim kan nya

antonatong, 13 Feb 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

PANGANDARAN - Pertanyaan besar  beberapa orang yang pernah berobat ke puskesmas di kabupaten Pangandaran :  berapa  biaya berobat saya di puskesmas ? -  berapa rupiah yang akan di klaim kan ke APBD nya ?......

Demikian pertanyaan  Arip Budiman dalam whattsapp nya yang dikirimkan ke beberapa orang wartawan , Kamis 13/02/2020.

Diterangkan Arif bahwa : program Pangandaran hebat terkait biaya pengobatan gratis mendapatkan sambutan yang begitu positif, hususnya bagi wong cilik.

Ketika datang ke puskesmas, masyarakat cukup hanya menggunakan Kartu keluarga dengan Kartu Tanda Penduduk  kabupaten Pangandaran.

Selain itu, lanjut Arif,  untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas, masyarakat juga dapat menggunakan BPJS atau jamkesmas, " ungkap nya.

Dijelaskan Arif bahwa,  saat kita sakit, dimanapun jika kita berobat, biasanya  bila selesai berobat, kita akan mengetahui habis berapa kita berobat, baik itu berobat pelayanan umum, pakai BPJS ataupun Jamkesmas. Biasanya ada struk atau rincian berapa biaya saat kita berobat ?.

Pertanyaan saya diatas hanya merupakan contoh pertanyaan saja, karena ribuan orang Pangandaran berobat di puskesmas yang tersebar di 10  kecamatan, diantara mereka tidak satu orangpun yang mengetahui berapa biaya yang ditanggung pemerintah untuk pembiayaanntya. 

Arif menambahkan, saya pernah berobat di puskesmas Parigi, pas mau pulang hanya dimintai Poto copy KK dan KTP, gratis sih, terang  Arif, namun saya tidak pernah tau berapa biaya berobat saya yang digratiskan itu, karena hakekatnya bukan gratis tapi tetap dibayar oleh uang rakyat.

Kejanggalan terjadi, mengapa ada obat yang harus saya beli di apotek luar, itu terjadi tidak hanya kepada saya saja, apakah di puskesmas tidak ada obat alternatif lain selain obat yang si pasien harus beli dari apotek luar. 

Apakah ini modus ! Misal : di puskesmas si pasien dapat Re'sep 5 jenis  obat, setelah diperiksa Dokter, re'sepnya yaitu obat A, obat B, obat C dan obat E, oleh si pasien re'sep itu ditukar ke locker obat.

Berikutnya, si loker menuliskan obat jenis B, jenis C , jenis D dan jenis E yang katanya tidak ada di loker, dan harus membelinya di Apotek luar.

Kemudian si pasien atau keluarga, disuguhi tulisan yang sudah ada drafnya, yang intinya si pasien hanya menginginkan jenis obat C,D,E yang tidak ada di locker puskesmas.

Lalu si pasien atau si keluarga harus menanda tangani draf itu, yang seolah olah membeli obat ke apotek luar itu hanyalah keinginan si pasien, " 

Pertanyaannya, apakah ini mutlak modus -Apakah untuk mengurangi beban belanja Apbd memang di buat mekanisme seperti itu, " Terang Arif.

" Arif berharap ada jawaban pasti dari dinas kesehatan agar masyarakat kabupaten Pangandaran mengetahuinya ! " 

Hingga pemberitaan ini terbit, pihak media belum mendapatkan keterangan dari dinas kesehatan, dikarenakan kepala dinasnya sedang dinas luar. (Anton AS)

 

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu